BANGGAI KECE – Sudah empat tahun berdiri, kelompok budidaya maggot BSF Gen Toili terus menunjukkan eksistensinya. Kehadirannya tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah organik menjadi bernilai ekonomi.
Selama empat tahun berkiprah dan bertahan hingga kini, kelompok budidaya maggot yang berlokasi di Sentral Sari, Kecamatan Toili, tentu menghadapi berbagai kendala dan tantangan.
Dalam kegiatan Visit Media yang digelar Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF), Samsul selaku perwakilan Kelompok Budidaya Maggot BSF Gen Toili menceritakan perjalanan awal berdirinya hingga berkembang seperti sekarang.

“Awalnya kita hanya kongko-kongko, membahas mahalnya pakan ikan dan ternak. Dari situ muncul ide, bagaimana kalau kita coba budidaya maggot untuk mengatasi mahalnya pakan,” kata Samsul di hadapan belasan wartawan, Minggu, 15 Februari 2026.
Setahun berjalan, BSF Gen Toili mendapat sentuhan dukungan dari Pertamina EP DMF melalui program CSR pengembangan masyarakat.
“Alhamdulillah, sejak 2023 kami mendapat banyak bantuan dari Pertamina EP, mulai dari sarana prasarana. Rumah maggot, kolam, hingga ruang pertemuan ini merupakan hasil dukungan tersebut,” ujarnya.
Seiring perkembangan dan peran Pertamina EP DMF sebagai “bapak angkat”, BSF Gen Toili kini mereplika program budidaya maggot di Desa Tirta Jaya, Kecamatan Toili Jaya. Tujuannya agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas, tidak hanya di satu desa.
“Kami mereplika program ini ke desa lain, bagaimana memanfaatkan limbah yang tidak berguna menjadi bernilai ekonomi. Sekaligus memprogramkan ketahanan pangan yang mengintegrasikan perikanan dan pertanian,” jelas Samsul.
Di atas lahan seluas satu hektare, BSF Gen Toili mengembangkan budidaya maggot yang terintegrasi dengan perikanan dan pertanian.
Di area tersebut terdapat kolam ikan serta hamparan tanaman sayuran dan jagung. Dari usaha ini, BSF Gen Toili mampu menyuplai bahan pangan berupa ikan dan sayuran.
“Tantangan pasti ada, salah satunya kesibukan anggota. Dari sepuluh orang, dua sudah tidak aktif. Ketua kami, Mas Agung, kini menjadi SPPG MBG, dan satu lainnya sudah mendirikan usaha sendiri,” ungkapnya.
Menurut Samsul, kehadiran BSF Gen Toili bukan hanya untuk keuntungan ekonomi, melainkan juga mengedukasi masyarakat agar sampah organik dapat dikelola menjadi sumber pendapatan.
Jika pada awal berdiri kelompok ini kesulitan mendapatkan sampah organik, kini justru banyak warga yang secara sukarela mengantarkannya.
Menariknya, warga yang membawa sampah organik mendapat imbalan berupa sayuran hasil kebun kelompok. Terjadi sistem barter, dari sampah menjadi bahan pangan.
“BSF Gen Toili juga sering menjadi lokasi studi banding dan tempat belajar anak-anak, mulai dari TK hingga SMA. Mereka senang melihat langsung kolam ikan dan kebun,” tambahnya.
Saat ditanya soal omzet dan keuntungan, Samsul menegaskan bahwa kelompoknya tidak berorientasi pada profit semata, tetapi memiliki misi edukasi tentang pengelolaan sampah yang kini menjadi persoalan global.
Tantangan
Pada masa awal berdiri, tantangan utama BSF Gen Toili adalah keterbatasan armada pengangkut sampah. Kelompok ini sempat meminjam motor roda tiga milik pemerintah kecamatan.
Keberadaan Pertamina EP DMF dinilai sangat membantu hingga kelompok mampu bertahan sampai sekarang. Samsul berharap perhatian tidak hanya datang dari “bapak angkat”, tetapi juga dari Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai sebagai “bapak kandung”.
“Kami berharap ada dukungan berupa motor roda tiga. Yang kami pinjam saat ini kondisinya sudah rusak, dan biaya perbaikannya tidak sedikit,” tuturnya.
Manfaat Maggot
Melalui budidaya maggot, BSF Gen Toili mampu mengubah sampah menjadi nilai ekonomi tinggi sekaligus menekan biaya pakan hingga 50 persen.
“Maggot hanya sebagai booster. Dengan maggot, biaya pakan yang awalnya Rp2 juta bisa turun menjadi Rp1 juta,” jelas Samsul.
Produk maggot BSF Gen Toili juga dipasarkan secara daring melalui TikTok Shop. Pembelinya tidak hanya dari daerah sekitar, tetapi juga dari luar daerah seperti Kalimantan dan Palu.
Maggot dipasarkan dalam bentuk segar maupun kering dalam kemasan. “Alhamdulillah, pasar kami sudah menembus luar daerah,” tandasnya.
Usai pemaparan, kelompok BSF Gen Toili mengajak wartawan melihat langsung proses budidaya maggot, perikanan, dan pertanian yang mereka kelola.
Kegiatan Visit Media ini merupakan program Pertamina EP DMF yang bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Banggai. (*)





