BANGGAI KECE – Berdiri sejak tahun 2022, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Noto Snack, kelompok binaan Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF), terus menunjukkan perkembangan luar biasa.
Di bawah kepemimpinan Andi Emma, kelompok ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkontribusi dalam membantu perekonomian ibu-ibu di Desa Nonong, Kecamatan Batui.
Di hadapan para wartawan dalam kegiatan media visit yang diprakarsai Pertamina EP DMF, Minggu (15/2/2026), Andi Emma menceritakan perjalanan panjang dan penuh tantangan hingga Noto Snack bisa eksis seperti saat ini.
Awalnya, kelompok yang kini beranggotakan 13 orang tersebut didirikan dengan nama UMKM Barokah Food. Namun, saat pengajuan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), nama tersebut telah terdaftar. “Makanya kita beri nama menjadi Noto Snack,” ujarnya.

Dalam memimpin kelompok UMKM ini, Andi Emma mengakui tidak sedikit kendala yang dihadapi.
Tantangan terbesar adalah menyatukan persepsi dan karakter dari belasan anggota yang memiliki latar belakang berbeda.
“Setiap anggota tentu beda karakter. Tantangannya lagi, ketika mau produksi (olahan pangan), ada anggota yang tidak hadir. Tapi Alhamdulillah, semua tantangan bisa diselesaikan,” ucapnya.
Ia menegaskan, perkembangan dan keberlangsungan UMKM Noto Snack tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah desa dan Pertamina EP DMF yang banyak membantu dalam penyediaan sarana dan peralatan produksi.
“Alhamdulillah, dari Pertamina EP DMF sudah sangat membantu kami dalam hal pengadaan sarana dan peralatan untuk olahan pangan,” tuturnya sembari memperlihatkan berbagai produk hasil olahan.
Adapun produk yang dihasilkan antara lain keripik pisang dengan berbagai varian rasa dan kacang disko.
Menariknya, produk tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Batui dan sekitarnya, tetapi juga berhasil menembus pasar ibu kota Kabupaten Banggai, Luwuk.
“Produk olahan kami bisa juga didapat di Golden hingga Total Mart. Paling banyak diminati dari produk olahan ini keripik pisang berbahan pisang tanduk,” jelasnya.
Selain dua produk unggulan tersebut, UMKM Noto Snack juga berencana menambah varian baru yakni reginang, melihat tingginya minat masyarakat terhadap produk tersebut.
Terkait bahan baku, Emma mengungkapkan bahwa pada awalnya kelompok mengalami kesulitan memperoleh pisang tanduk untuk produksi keripik. Bahan baku harus dipesan dari Toili.

Namun seiring waktu, warga dan karang taruna mulai menanam pisang tanduk sehingga kebutuhan bahan baku kini tercukupi.
“Jadi dampak manfaatnya ke masyarakat juga terasa dari produk olahan ini. Alhamdulillah, karang taruna menanam, dan masyarakat juga mulai menanam pisang tanduk untuk bahan baku,” katanya.
Dalam hal kapasitas produksi, Emma menyebutkan bahwa dalam sebulan dilakukan hingga lima kali produksi. Setiap kali produksi mampu menghasilkan 100 bungkus untuk setiap jenis produk.
“Kalau omset, dalam sebulan mencapai Rp5 jutaan. Harga per bungkusnya bervariatif mulai Rp15 ribuan per bungkus. Cukup terjangkau untuk konsumen,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Emma menyampaikan rasa terima kasih kepada Pertamina EP DMF yang telah memberikan dukungan tidak hanya berupa bantuan modal dan sarana, tetapi juga pelatihan rutin. Bahkan, kelompok binaan ini mendapat kesempatan melakukan studi banding ke luar kota guna meningkatkan kapasitas dan wawasan usaha.
Ia pun mendoakan agar Pertamina EP DMF terus sukses dan tetap memberikan perhatian kepada UMKM binaan maupun UMKM lainnya.
Visit Media dan Transparansi CSR
Dalam kegiatan visit media tersebut, Jamesar Relations Pertamina EP DMF menyambut hangat kedatangan para wartawan dari Kota Luwuk yang berada di bawah naungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Banggai.
“Selamat datang Pak Ketua PWI Banggai dan rombongan yang telah hadir dalam rangka visit media,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada ibu-ibu anggota UMKM Noto Snack yang telah meluangkan waktu dan menyediakan tempat untuk kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran rekan-rekan media bertujuan agar wartawan dapat melihat langsung program pengembangan masyarakat yang dijalankan Pertamina EP DMF melalui dana CSR.
Lewat kegiatan ini, para jurnalis bisa menyaksikan secara langsung proses produksi serta perjuangan para ibu-ibu sebagai penggerak ekonomi desa.
“Nanti teman-teman wartawan bisa diskusi dan saling sharing informasi,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua PWI Banggai, Abd Saleh, menyampaikan terima kasih kepada Pertamina EP DMF yang telah membuka ruang bagi wartawan melalui kegiatan visit media tersebut.
Ia menilai hal itu sebagai bentuk transparansi perusahaan kepada insan pers, khususnya PWI Banggai.
“Kegiatan ini sangat luar biasa. Kami bisa melihat langsung bagaimana program-program Pertamina EP DMF dilakukan di tengah masyarakat, khususnya program pemberdayaan masyarakat,” tandasnya. (*)





