BeritaNewsUmum

Budidaya Maggot di Tirta Jaya, Ubah Sampah Organik Jadi Pakan dan Pupuk: Integrasikan Pertanian–Perikanan

359
×

Budidaya Maggot di Tirta Jaya, Ubah Sampah Organik Jadi Pakan dan Pupuk: Integrasikan Pertanian–Perikanan

Sebarkan artikel ini

BANGGAI KECE – Budidaya maggot kini menjadi solusi inovatif dalam mengubah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomis. Selain membantu mengurangi limbah rumah tangga, maggot juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan, ternak hingga pupuk organik.

Inovasi ini dijalankan Kelompok Maggot Jaya di Desa Tirta Jaya, Kecamatan Toili Jaya, Kabupaten Banggai, yang merupakan kelompok binaan Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF).

Melalui budidaya maggot, kelompok ini mampu mengintegrasikan sektor pertanian dan perikanan secara berkelanjutan. Di atas lahan milik desa tersebut, terhampar area tanaman dan kolam ikan yang saling terhubung dalam satu sistem terpadu.

Maggot yang dibudidayakan menjadi sumber pakan ikan dan ayam, sementara sisa hasil penguraiannya dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman.

“Maggotnya bisa untuk pakan ikan dan ternak ayam. Sedangkan kotoran maggot bisa jadi pupuk,” jelas salah satu anggota Kelompok Maggot Jaya.

Diketahui, Kelompok Maggot Jaya merupakan replika dari Kelompok Maggot Tirtasari atau BSF Gen Toili yang telah lebih dulu berkembang. Konsep ini terus diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat desa.

BACA JUGA:  Satgas Pangan Polres Bangkep Sidak Harga Beras di Lompio, Pastikan Ketersediaan dan Stabilitas Pasokan

Kepala Desa Tirta Jaya, Agus Farhan, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Pertamina EP DMF serta kunjungan para wartawan dalam kegiatan Media Visit yang digelar pada Minggu (15/2/2026).

“Terima kasih kepada Pertamina EP dan rekan-rekan wartawan atas kunjungannya,” ujarnya di hadapan belasan jurnalis.

Dalam kunjungan tersebut, wartawan melihat langsung tahapan budidaya maggot, mulai dari penyiapan indukan lalat, proses penetasan telur hingga menjadi larva siap panen.

“Telur maggot ini dihasilkan dari lalat. Setiap lalat (indukan) bisa menghasilkan 500 sampai 900 butir telur,” terang anggota kelompok.

Budidaya ini memanfaatkan lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens), serangga yang dikenal aman bagi manusia dan sangat efektif mengurai sampah organik.

Larvanya mampu mengubah limbah dapur seperti nasi, lauk, buah, dan sayuran menjadi sumber protein bernutrisi tinggi untuk pakan ternak serta pupuk alami (kasgot).

BACA JUGA:  Polsek Banggai Kawal Bakti Sosial SAAF: 150 Anak Ikuti Khitanan Massal, 50 Ibu Hamil Terima Layanan USG Gratis

Lalat dewasa BSF sendiri tidak makan dan hanya hidup singkat untuk bereproduksi. Justru pada fase larva, serangga ini bekerja sangat efisien dalam mengolah limbah, sehingga menjadi solusi penting dalam pengelolaan sampah sekaligus sumber protein alternatif untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

Kelompok Maggot Jaya awalnya beranggotakan 12 orang. Namun seiring waktu, kini tersisa enam orang yang aktif menjalankan budidaya tersebut.

“Kalau maggotnya, kita jual Rp10 ribu sampai Rp12 ribu. Hasilnya belum mampu untuk keluar, hanya bisa memenuhi kebutuhan di desa saja,” ungkapnya.

Meski demikian, keberadaan budidaya ini telah membantu memenuhi kebutuhan pakan ikan dan ternak masyarakat setempat, sekaligus menyediakan pupuk organik bagi lahan pertanian desa.

Visit Media

Dalam kegiatan visit media tersebut, tim Relations Pertamina EP DMF mengawal langsung rangkaian kunjungan, mulai dari Rumah Produksi UMKM Noto Snack di Desa Nonong hingga lokasi budidaya maggot di Tirta Jaya.

BACA JUGA:  Tak Hanya Kejar Profit, BSF Gen Toili Edukasi Masyarakat Terkait Pengelolaan Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi 

“Selamat datang Pak Ketua PWI Banggai dan rombongan yang telah hadir dalam rangka visit media,” ujar perwakilan Relations Pertamina EP DMF.

Menurutnya, kehadiran rekan-rekan media bertujuan agar wartawan dapat melihat secara langsung program pengembangan masyarakat yang dijalankan perusahaan melalui dana CSR.

Lewat kegiatan ini, para jurnalis dapat menyaksikan langsung proses produksi UMKM, perjuangan ibu-ibu penggerak ekonomi desa, hingga praktik budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan limbah terpadu.

“Nanti teman-teman wartawan bisa diskusi dan saling sharing informasi,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua PWI Banggai, Abd Saleh, menyampaikan apresiasi kepada Pertamina EP DMF atas keterbukaan dan ruang yang diberikan kepada insan pers.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Kami bisa melihat langsung bagaimana program-program Pertamina EP DMF dilakukan di tengah masyarakat, khususnya program pemberdayaan masyarakat,” tandasnya. (*)