BeritaNews

Gelar Ibadah Natal Suku Mee Sorong Tahun 2025

472
×

Gelar Ibadah Natal Suku Mee Sorong Tahun 2025

Sebarkan artikel ini

BANGGAI KECE- Sorong – Selasa, 30 Desember 2025, Ikatan Keluarga Besar Suku Mepago (IKBSM) Sorong Raya menggelar Ibadah Natal Suku Mee Sorong Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Gereja Kingmi Klafos Meuwo, Jalan Malibela, Kota Sorong, Papua Barat Daya.

Ibadah Natal tersebut digelar sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Sang Penebus dosa. Keluarga Besar Suku Mepago Sorong Raya dengan penuh hikmat melaksanakan perayaan Natal Tahun 2025.

Rangkaian ibadah dipandu oleh protokol Yolanda Osok, dengan pemimpin ibadah sekaligus MC Mery Pakage. Pengisi pujian yakni Singres Yuli, Ina, dan Selina, sementara musik diiringi oleh Yohanes Dogomo. Ibadah ini dirangkai dengan khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Dominggus Bobi, M.Th, mengangkat tema “Yesus Mengatakan Identitas Diri Kita Terang di Mata Tuhan” dan subtema “Melalui Perayaan Natal Ini, Kita Sadar Bahwa Saya Mee Papua”.

BACA JUGA:  Luar Biasa! Dua Gadis Cilik Raih Juara 2 dan 3 di Kategori Umum FEB Fun Run 2026"

Dalam khotbahnya, Pdt. Dominggus Bobi menjelaskan bahwa Natal dipandang sebagai kesempatan bagi orang Mee untuk menjadi pelita dan pembawa damai, serta mampu mempersatukan kembali masyarakat yang mungkin tercerai-berai akibat berbagai persoalan sosial.

“Orang Mee dipanggil untuk menjadi terang dan pembawa damai,” jelas Bobi.

Sambutan perwakilan Kepala Suku Mee Sorong yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Sorong, Andarias Adii, S.T., menyampaikan pesan khusus kepada mama-mama Suku Mee yang sehari-hari berjualan sayur agar tetap semangat. Ia menegaskan bahwa para pejabat di Kota Sorong sering membeli dan menikmati hasil jualan tersebut.

Ia juga mengingatkan instruksi Wali Kota Sorong tentang program Maju, Bersih, Hijau, Aman, dan Sejahtera, khususnya pentingnya menjaga kebersihan mulai dari sampah kering hingga sampah basah. Andarias menambahkan bahwa kontribusi para petugas kebersihan Kota Sorong sangat dirasakan, termasuk bagi mahasiswa asal Paniai, Deiyai, dan Dogiyai.

BACA JUGA:  FEB Fun Run 2026 Sukses Digelar, Dekan Ucapkan Terima Kasih ke Para Sponsor

“Orang tua kami Pak Jhon sangat memperhatikan kontribusi para karyawan sampah Kota Sorong,” pungkas Adii.

Ibadah Natal Suku Mee Kota Sorong ini turut dihadiri Jhoni Haji Malibela, Direktur PT Bangun Malamoi Indah (BMI), yang juga merupakan anak adat asli Moi Sorong di pusat Ibu Kota Provinsi Papua Barat Daya.

Sebelum menyampaikan sambutan, Jhoni memperkenalkan sapaan dalam Bahasa Moi, yakni “Lawobok” yang berarti selamat sore, serta “nara gerotelo” yang berarti apa kabar.

Menanggapi salah satu poin firman yang disampaikan Pdt. Bobi, Jhoni mengaku terkesan dan tersentuh. Ia menekankan pentingnya anak-anak Papua belajar dari kebenaran dan budaya, serta mengenal diri sendiri agar mampu membahagiakan orang lain.

“Hati saya terkesan dan tergerak, karena sebagai anak Papua kita perlu belajar dari kebenaran dan budaya,” ungkap Jhoni.

Dalam laporan panitia, Yohanes Dogomo menyampaikan bahwa sejak awal pembentukan kepanitiaan Natal Suku Mepago di Kota Sorong hingga pelaksanaan kegiatan berjalan dengan lancar dan aman. Ia menjelaskan bahwa iuran wajib per keluarga digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan Natal, serta didukung oleh kerja nonfisik dari lebih dari tiga orang penanggung jawab.

BACA JUGA:  Ini Daftar Para Juara di FEB Fun Run 2026, Atep Jadi Tercepat Catatkan Waktu 16 Menit

Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, termasuk sumbangan makanan dan minuman dari masyarakat serta seekor babi dari Kepala Suku Mepago Sorong Raya, Bapak Robi Douw.

“Semoga Tuhan memberkati semua pengorbanan dan upaya yang telah dilakukan,” tutup Dogomo.

Konsumsi kegiatan diatur oleh mahasiswa IPMAPANDODE se-Kota Studi Sorong di bawah tim penggerak Daniel Adii, S.E, bersama para alumni dan senior. Persiapan dilakukan melalui kegiatan bakar batu, mulai dari mencari kayu bakar, menyiapkan daun pisang, sayur-sayuran, hingga pemotongan dua ekor babi. (*)

Penulis: Jeri P. Degei