BeritaNasionalNewsPendidikan

Dapat Beasiswa S2 dari Rektor Saat Wisuda, Ini Kisah Haru Demi Sofyanto Balante Lulusan Bahasa Inggris Asal Bangkep

3537
×

Dapat Beasiswa S2 dari Rektor Saat Wisuda, Ini Kisah Haru Demi Sofyanto Balante Lulusan Bahasa Inggris Asal Bangkep

Sebarkan artikel ini
Momen ketika Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K Djawa menawarkan beasiswa S2 Pedagogik untuk Demi Sofyanto Balante, Lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris saat Wisuda Angkatan XXIII. FOTO: SCREENSHOT/IST

BANGGAI KECE- Suasana haru dan bahagia, dirasakan Demi Sofyanto Balante, salah satu wisudawan di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk Banggai yang mendapat beasiswa untuk lanjut studi S2 Pedagogik.

Di tengah keterbatasan ekonomi karena pendapatan sang ayah yang pas-pasan, Ia berhasil menyelesaikan studi strata satunya di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Perjuangannya dalam menyelesaikan studi, begitu penuh tantangan. Namun semua itu terbayar, dengan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd),dan torehan IPK 3,90.

Di momentum Wisuda Angkatan XXIII Strata Satu dan Angkatan I Magister Manajemen, Sabtu 13 Desember 2025 di Hotel Estrella Luwuk, Demi Sofyanto Balante mendapat kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan.

Ia pun menceritakan bagaimana suka dukanya perjuangan dalam menempuh dan meraih gelar sarjana. Di tengah keterbatasan ekonomi, anak piatu asal Banggai Kepulauan ini harus berjuang keras dan tak putus semangat.

Dalam suasana haru, Ia pun mengenalkan sosok orangtua yang telah berjuang dan berkorban untuknya, hingga bisa menyelesaikan studi.

“Dulunya saya punya dua cahaya yang selalu menerangi langkah saya, dan saya berharap hari ini dua cahaya itu hadir dan menyaksikan saya di wisuda,” ucap Demi, penuh haru.

Namun Tuhan berkata lain, satu cahaya itu padam. Sang ibu tercinta, telah meninggalkanya lebih dulu pada 2019 silam, setelah berjuang melawan sakitnya.

“Papa bisa berdiri, iya papa. Inilah satu cahaya yang tersisa. Karena cahaya satunya telah padam. Mama saya sudah meninggal pada September 2019 lalu, karena sakit stroke,” terangnya.

BACA JUGA:  FEB Fun Run 2026 Sukses Digelar, Dekan Ucapkan Terima Kasih ke Para Sponsor

Menjadi mahasiswa selama empat tahun bagi Demi, sangatlah berat. Mengingat ia berasal dari kampung yang begitu jauh di Kabupaten Banggai Kepulauan. 

Apalagi kalau harus menjalani perkuliahan online, Demi harus mencari tumpangan wifi gratis. Kalau bukan di Persibal, ia manfaatkan wifi gratis di kampus. Kadang juga di rumah temannya bernama Dio.

“Saya sering (numpang wifi) di teman saya, Dio. Dia juga hadir di sini. Terima Dio, saya kalau ke rumahnya, selalu diajak makan. Begitu pun orangtuanya (baik),” katanya, mengenang kebaikan temannya.

Kemudian untuk uang kuliah, Demi selalu terlambat menyelesaikannya karena keterbatasan ekonomi. Sang ayah hanya bekerja sebagai petani, dan penghasilan tak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Ia pun menyampaikan banyak terima kasih kepada rekan-rekan kuliahnya yang telah banyak membantu hingga bisa melewati semua tantangan dalam semasa kuliah.

“Pendapatan seorang petani itu syukur-syukur kalau ada cengkeh, kalau tidak ada hasil kebun, ayah pergi melaut. Kadang hanya dapat satu atau dua ekor suntung, bagaimana mau cukup untuk membayar uang kuliah. Tapi untuk membeli paket (paket data untuk kebutuhan kuliah), boleh,” ucapnya, sambil tersenyum.

Olehnya, suatu kesyukuran kata Demi, bagi rekan-rekan yang masih memiliki kedua orangtua. Ketika mendapat uang kuliah, sebaiknya hemat.

Ia mengaku, untuk kebutuhan sehari-hari di Luwuk, ketika orangtua ada kelebihan, ditransfer uang Rp100 ribu. Dana ini ia kelola sehemat mungkin, agar cukup selama dua pekan kedepan.

“Mungkin bagi teman-teman itu mustahil. Tapi saya usahakan bisa dua minggu. Saya sebagai laki-laki jarang jajan, bagi saya yang penting ada nasi dan dabu-dabu itu sudah spesial. Enak bagi saya itu nomor sekian, yang penting kenyang,” kata Demi, yang disambut riuh tepuk tangan, karena salut atas perjuangannya.

BACA JUGA:  Masya Allah, Sehari Terkumpul Donasi Rp77,6 Juta untuk Adik Khadafi, Korban Laka Maut di Batui

Ia pun tak luput menyampaikan terima kasih kepada para dosen yang telah membimbingnya dekan empat tahun hingga sukses meraih gelar sarjana.

Di akhir sambutannya, ia kembali mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantunya selama kuliah.

Pasalnya, tantangan yang paling berat selama kuliah, saat ada tugas. Ia tak punya laptop atau komputer. Harus mengerjakan tugas lewat hp, ketika merapikan baru meminjam laptop temannya.

Setelah membawakan pesan dan kesan yang penuh mengharukan seisi ruangan, Demi dipanggil Rektor untuk naik di atas panggung.

Ketika di atas panggung, Rektor Unismuh Luwuk, Dr Sutrisno K Djawa menawarkan beasiswa S2. “Mau S2?,” tanyanya.

Ketika ditanya, Demi terlihat ragu dan menoleh ke belakang untuk melihat reaksi teman-temannya yang terus berteriak ‘S2’.

Setelah kembali ditawarkan mau lanjut studi S2, demi baru mengiyakan. “Saya kasih kamu (beasiswa) S2 buat anda. S2 Pedagogik,” kata Rektor.

Sontak, Demi Sofyanto Balante pun terlihat gembira dan penuh antusias. Ia langsung menjabat tangan Rektor dan anggota senat, sebagai ucapan terima kasih.

Dikonfirmasi media ini, Demi Sofyanto Balante membenarkan hal tesebut. “Iya pak, saya ditawarkan beasiswa oleh Pak Rektor, dan saya mau,” katanya.

Pria kelahiran 9 Desember 2001 ini mengaku tak menyangka bisa mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi S2. 

BACA JUGA:  Polisi Bekuk Lima Terduga Pengedar Ribuan Pil THD di Lamala, 2 Diantaranya Perempuan

Meski di tengah keterbatasan, Demi mampu menunjukkan kepada dunia, bisa menyelesaikan studi dengan raihan IPK tinggi yakni 3.90.

Profil Singkat 

Sukses meraih gelar sarjana dengan IPK 3.90 dan mendapat beasiswa S2 dari Rektor, Demi berasal dari Desa Bonepuso, Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Ia adalah anak bungsu dari tiga saudara dan buah hati dari pasangan Benok Balante dan almarhuma Yeti Tidung. Sang ayah bekerja sebagai petani, dan ibu telah tiada sejak 2019.

“Sejujurnya saya sangat senang sekali bisa mendapatkan tawaran beasiswa dari Pak Rektor. Karena ini merupakan suatu kebanggaan bagi saya, orang tua saya, kakak saya dan keluarga saya,” kata Demi.

Sang ayah yang bekerja sebagai petani kebun kata Demi, memiliki penghasilan yang pas-pasan dan tidak menentu. Apalagi sekarang harga jambu mente tidak stabil.

Penghasilan ayah yang tak menentu, kadang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja buat makan. 

“Suka dukanya (saat kuliah) itu saya keterbatasan laptop dalam mengerjakan tugas kuliah, jadi biasanya saya mengerjakan tugas kuliah menggunakan word HP, nanti kalau sudah jadi saya coba pinjam laptop atau komputer teman untuk dirapikan lagi,” kata Demi, kembali menceritakan bagaimana perjuangannya saat kuliah.

Ia berharap, semoga setiap pengalaman yang didapatkannya bisa menjadi pembelajaran berharga baginya. “Terutama ilmu yang saya dapatkan selama kuliah kurang lebih empat tahun bisa bermanfaat untuk orang lain,” tandasnya. (*)