BeritaKesehatanNews

Ida: Berkat JKN, Saya Bisa Terus Jalani Terapi Tanpa Beban Biaya

902
×

Ida: Berkat JKN, Saya Bisa Terus Jalani Terapi Tanpa Beban Biaya

Sebarkan artikel ini
Farida Laapo (46), warga Kecamatan Luwuk, merasakan manfaat program JKN. FOTO: IST

Banggaikece.id- Farida Laapo (46), warga Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) dengan FKTP terdaftar di Puskesmas Kampung Baru. Sejak 2015, ia rutin memanfaatkan layanan JKN setelah didiagnosa mengalami penyempitan saraf tulang belakang yang mengharuskannya menjalani pengobatan dan terapi berkala.

“Saya mulai rutin menggunakan JKN sejak tahun 2015, karena didiagnosa oleh dokter mengalami penyempitan saraf di bagian tulang belakang. Bersyukur saat itu saya sudah terdaftar sebagai peserta JKN yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah daerah, sehingga saya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa mengeluarkan biaya,” ujar Ida, belum lama ini.

Ida mengaku hingga kini masih menjalani terapi secara rutin di rumah sakit. Dalam seminggu, ia menjalani terapi sebanyak tiga kali. Ia sangat bersyukur menjadi peserta JKN, sebab tanpa bantuan JKN ini, biaya pengobatan yang harus ia tanggung cukup besar.

BACA JUGA:  Ini Daftar Para Juara di FEB Fun Run 2026, Atep Jadi Tercepat Catatkan Waktu 16 Menit

“Jika tidak ada JKN, untuk satu kali terapi saja saya harus mengeluarkan biaya ratusan ribu. Dalam sebulan bisa sampai 12 kali pertemuan. Bayangkan saja, berapa biaya yang harus saya keluarkan dalam sebulan, apalagi dalam setahun,” jelasnya.

Tak hanya menjalani pengobatan di dalam daerah, pada tahun 2022 Ida juga sempat dirujuk ke rumah sakit di luar daerah untuk pemeriksaan lanjutan. Ia menuturkan bahwa seluruh biaya yang timbul, termasuk pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang biayanya cukup besar, seluruhnya dijamin oleh JKN.

“Alhamdulillah semua ditanggung. Pemeriksaan MRI yang biayanya bisa jutaan rupiah pun saya bisa jalani tanpa keluar biaya,” ungkapnya.

Selama menjalani pengobatan, Ida merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Ia mengaku tidak pernah mengalami kendala berarti. Terapi berjalan dengan baik dan obat-obatan, termasuk obat pereda nyeri, selalu tersedia sesuai resep dari dokter spesialis saraf.

BACA JUGA:  Belasan Rumah Warga di Desa Masing Rusak Diterjang Angin Kencang

“Pelayanannya sangat baik. Fisioterapis juga sangat membantu dalam proses terapi. Obat-obatan juga selalu lengkap,” kata Ida.

Selain itu, Ida juga memanfaatkan inovasi digital yang dihadirkan BPJS Kesehatan, yaitu antrean online melalui Aplikasi Mobile JKN. Fitur ini sangat memudahkan dirinya dan keluarga dalam mengakses layanan kesehatan.

“Sekarang juga sudah sangat mudah untuk mengakses pelayanan, saya memanfaatkan antrean online yang ada di apklikasi mobile JKN. Jadi sekarang saya kalau mau datang ke puskesmas atau ke rumah sakit untuk terapi sudah tinggal menunggu dari rumah saja. Bukan hanya saya, tapi untuk ibu saya yang suah lansia juga memanfaatkan antrean online ini, jadi biasa saya bantu mengambilkan antrian lewat Aplikasi Mobile JKN sehingga tidak perlu lagi menunggu lama di Puskesmas”, ujar Ida.

BACA JUGA:  Dua Siswi Kakak Beradik Asal SMAN 2 Luwuk Raih Juara 1 dan 2 di FEB Fun Run 2026

Ida juga menambahkan, bahwa peningkatan kualitas layanan ini sangat memudahkan mereka dalam mengakses layanan sebagai peserta JKN.

“Saya merasa senang dengan adanya peningkatan kualitas pelayanan yang seperti ini, kami sangat dimudahkan,” ujar ida.

Di akhir wawancara, Ida menyampaikan rasa syukur dan harapannya terhadap keberlanjutan JKN agar dapat terus membantu masyarakat, khususnya yang kurang mampu.

“Saya merasa senang dengan peningkatan kualitas layanan yang ada saat ini. Kami sebagai peserta sangat dimudahkan. Harapan saya, semoga JKN bisa terus berjalan dan membantu masyarakat, khususnya kami yang iurannya dibayarkan pemerintah. Program JKN ini sangat berarti bagi masyarakat kecil seperti kami,” pungkasnya. (*)