BeritaNasionalNews

Exco Papua Tengah Peringati Hari Masyarakat Adat Internasional, Soroti Sejarah dan Makna May Day

1131
×

Exco Papua Tengah Peringati Hari Masyarakat Adat Internasional, Soroti Sejarah dan Makna May Day

Sebarkan artikel ini

Nabire, Papua Tengah – Pengurus Partai Buruh, Executive Committee (Exco) Papua Tengah, memanfaatkan momentum Hari Masyarakat Adat Internasional yang diperingati setiap 9 Agustus untuk memberikan edukasi tentang makna dan sejarah peringatan tersebut, sekaligus membandingkannya dengan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei. Acara ini berlangsung di Sekretariat Partai Buruh Papua Tengah, Kodim 753 Nabire, Papua Tengah.

Ketua II Exco Papua Tengah, Menase Ugedi Degei, S.Sos, menjelaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kedua hari tersebut, karena masing-masing memperingati peristiwa yang berbeda.
“Hari Buruh Internasional atau May Day adalah hari untuk memperingati perjuangan kaum buruh dan hak-hak mereka, terutama terkait jam kerja, sedangkan Hari Masyarakat Adat Internasional bertujuan meningkatkan kesadaran akan kebutuhan, hak, dan budaya masyarakat adat di seluruh dunia, khususnya di Papua Tengah,” jelasnya.

Menase Degei menambahkan, perayaan May Day memiliki akar sejarah panjang, bahkan sejak ribuan tahun lalu, sebagai perayaan pergantian musim semi di belahan bumi utara. Tradisi Beltane atau maypole dilakukan dengan menari mengelilingi tiang yang dihiasi pita warna-warni sebagai simbol kehidupan dan kesuburan.

BACA JUGA:  Ini Daftar Para Juara di FEB Fun Run 2026, Atep Jadi Tercepat Catatkan Waktu 16 Menit

Sekretaris I Exco Papua Tengah, Orion Degei, S.Kom, menuturkan bahwa pada abad ke-19, May Day berkembang menjadi peringatan Hari Buruh Internasional yang lahir dari gerakan pekerja untuk menuntut jam kerja delapan jam di Amerika Serikat.
“Gerakan ini muncul untuk mengakhiri kondisi kerja yang buruk dan jam kerja panjang yang menyebabkan ribuan orang meninggal setiap tahun,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Polisi Penolong Satpolairud Polres Bangkep Evakuasi Pasien Anak di Pelabuhan Salakan

Menase Degei juga mengutip peristiwa penting pada 1 Mei 1886, ketika lebih dari 300.000 pekerja di seluruh Amerika Serikat melakukan mogok kerja. Aksi ini memuncak pada insiden Haymarket di Chicago, yang menimbulkan bentrokan antara polisi dan pekerja, menyebabkan banyak korban jiwa dan memicu gelombang represi terhadap gerakan buruh. Peristiwa ini menjadi tonggak penting yang memperkuat solidaritas buruh di seluruh dunia, termasuk di Papua Tengah.

BACA JUGA:  Sekda Bangkep Resmi Buka Pelatihan Dasar CPNS Golongan II dan III Tahun 2026

Sejarah May Day kemudian menyebar ke Eropa, dan pada 1890 lebih dari 300.000 orang berunjuk rasa di London. Hingga kini, Hari Buruh diakui sebagai hari libur resmi di 66 negara, meskipun tidak di Amerika Serikat. Meski demikian, makna perjuangannya tetap dihargai secara global.

“Perayaan May Day hingga sekarang masih menjadi simbol perjuangan pekerja untuk hak-hak mereka dan solidaritas global dalam memperjuangkan keadilan di tempat kerja, termasuk di Papua Tengah,” tutup Menase Degei.

Sumber: Menase Ugedi Degei
Editor: Jeri P. Degei