BeritaNews

Kader HMI Gugat Ketidaksetaraan Gender di Dunia Kerja: Dorong Pengarusutamaan Gender Hadapi Stereotip dan Diskriminasi

567
×

Kader HMI Gugat Ketidaksetaraan Gender di Dunia Kerja: Dorong Pengarusutamaan Gender Hadapi Stereotip dan Diskriminasi

Sebarkan artikel ini

Banggaikece.id— Isu ketidaksetaraan gender di lingkungan kerja masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Nirmala Shabrina, menyuarakan kekecewaannya terhadap masih kuatnya stereotip gender dan pembatasan pilihan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin yang menghambat potensi individu serta kemajuan organisasi.

Dalam keterangannya, Nirmala menyatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini dibutuhkan komitmen serius dalam menerapkan pengarusutamaan gender di seluruh aspek lingkungan kerja.

“Banyak individu, khususnya perempuan, mengalami hambatan dalam mengakses peluang kerja atau promosi karena stereotip terhadap peran gender tradisional. Ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mengurangi keragaman dan inovasi dalam dunia kerja,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Polisi Bekuk Lima Terduga Pengedar Ribuan Pil THD di Lamala, 2 Diantaranya Perempuan

Menurut Nirmala, pengarusutamaan gender bukan hanya soal memberi kesempatan yang sama, tetapi juga soal menciptakan ruang kerja di mana setiap orang—tanpa memandang jenis kelamin—dapat berkembang secara optimal dan berkontribusi secara kolektif.

“Ini membutuhkan perubahan pola pikir, kebijakan yang inklusif, serta praktik-praktik kerja yang mendukung kesetaraan di semua tingkatan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Musrenbang RKPD 2027 Tingkat Kecamatan Tinangkung Resmi Dibuka, Asisten II Ajak Pemangku Kepentingan Aktif Berpartisipasi

Melalui penerapan prinsip-prinsip pengarusutamaan gender, organisasi dapat:

Mengidentifikasi dan menghapus stereotip yang membatasi pilihan karier dan pertumbuhan profesional;

Menciptakan kebijakan yang adil dalam proses rekrutmen, promosi, hingga pengembangan karyawan;

Meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberagaman gender dan manfaatnya bagi kinerja organisasi;

Membangun budaya kerja inklusif yang menghargai kontribusi setiap individu tanpa diskriminasi.

Nirmala juga mengkritik keras lemahnya tanggapan terhadap ketimpangan ini di level kebijakan.

“Ini bukan hanya soal lambat, tapi soal abai. Pelayanan publik tidak bisa hanya berhenti pada slogan dan formalitas kebijakan. Harus diuji dalam situasi krisis seperti saat ini. Ketika rakyat butuh perlindungan, pemerintah justru absen secara nyata,” tegasnya.

BACA JUGA:  Geger, Wanita Lansia Ditemukan Tewas Terapung di Saluran Irigasi Simpang Raya

Sebagai penutup, Nirmala menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan—baik perusahaan, pemerintah, hingga masyarakat sipil—untuk bersatu dalam menggugat dan mengatasi ketidaksetaraan gender di dunia kerja.

“Dengan mengimplementasikan prinsip pengarusutamaan gender secara konsisten, kita bisa membangun masa depan yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan bagi semua,” pungkasnya. (*)