BeritaNews

Gotong Royong “Yuu Waita” Masyarakat Topiyai Meriahkan Hari Puncak Muspasmee Ke-VIII Paroki Komopa

307
×

Gotong Royong “Yuu Waita” Masyarakat Topiyai Meriahkan Hari Puncak Muspasmee Ke-VIII Paroki Komopa

Sebarkan artikel ini

BANGGAI KECE- Komopa Aradide – Paniai, Papua Tengah – Gotong royong masyarakat Distrik Topiyai tampil kompak melalui aksi nyata “Yuu Waita” untuk mempererat persaudaraan, persatuan, dan kesatuan pada hari puncak momentum Muspasmee (Musim Paskah Muda) Ke-VIII Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika.

Kegiatan ini digelar Jumat (30/01/2026) dan dikonfirmasi oleh Ketua Panitia Lokal Stasi “Daidaa Eyagitaida”, Demian Degei, kepada reporter Media BanggaiKece.co.id.

Demian Degei mengatakan, rekreasi ini menjadi momen kebanggaan bagi masyarakat akar rumput.

BACA JUGA:  905 Runner Ramaikan FEB Fun Run 2026

“Kami bangga menjadi bagian dari kampung halaman tercinta, merawat akar budaya dengan mencintai kesederhanaan dan berkontribusi nyata bagi Distrik Topiyai,” ujarnya.

Secara geografis, wilayah Distrik Topiyai yang meliputi Debakebouda, Baguwopugaida, dan Topiyaimaida dapat dibagi menjadi empat bagian, di antaranya Paniai bagian ufuk timur, wilayah selatan, utara, serta timur.

BACA JUGA:  FEB Fun Run 2026 Sukses Digelar, Dekan Ucapkan Terima Kasih ke Para Sponsor

Degei juga menyampaikan apresiasi besar kepada kepala suku, kalangan intelektual, tokoh pemuda pengawal Distrik Topiyai, 10 kepala kampung, serta tokoh masyarakat yang turut berperan aktif.

Hal ini mencerminkan kearifan lokal (adat) yang selaras dengan wawasan modern di tengah “Yuu Waita” sebagai rekreasi penjemputan Muspasmee Ke-VIII. Konsep ini membangun masyarakat yang harmonis dan kreatif dari hulu hingga hilir Distrik Topiyai.

BACA JUGA:  Ini Daftar Para Juara di FEB Fun Run 2026, Atep Jadi Tercepat Catatkan Waktu 16 Menit

“Kami ciptakan jiwa sehat, jaga kebugaran, tingkatkan kebersamaan dan keakraban antarwarga,” tuturnya.

Kekompakan Pemuda Katolik dan Kingmi juga terlihat luar biasa, didukung persiapan kaum perempuan dan laki-laki asal Topiyai.

“Peran mereka krusial dari tingkat keluarga hingga pemberdayaan komunitas selama dua minggu proses kepanitiaan bersama tokoh pemuda pengawal distrik,” pungkasnya. (*)

Penulis: Jeri P. Degei