BeritaNewsPendidikan

Beri Pembekalan KKN-MB, Mujiono Minta Mahasiswa Unismuh Luwuk Jadi Motivator Sukseskan Program Pemda Banggai

313
×

Beri Pembekalan KKN-MB, Mujiono Minta Mahasiswa Unismuh Luwuk Jadi Motivator Sukseskan Program Pemda Banggai

Sebarkan artikel ini

BANGGAI KECE – Sebanyak 234 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk mulai mengikuti pembekalan Kuliah Kerja Nyata Mobilisasi Berkemajuan (KKN-MB) Angkatan XXXIX, Sabtu, 24 Januari 2026.

Pembekalan KKN-MB yang berlangsung selama dua hari di pelataran kampus hijau Unismuh Luwuk tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K Djawa.

Salah satu pemateri pada hari pertama pembekalan adalah Bupati Banggai yang diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Mujiono, SH., MH.

Dalam materinya, Mujiono menyampaikan berbagai pesan strategis kepada mahasiswa yang akan ditempatkan di Kecamatan Pagimana selama lebih dari satu bulan.

Menurut Mujiono, mahasiswa KKN-MB tidak harus mengeluarkan banyak biaya dalam menjalankan program kerja. Namun, yang terpenting adalah mampu membantu program pemerintah daerah (Pemda) dengan menjadi motivator, penggerak, dan pendamping masyarakat di lapangan.

BACA JUGA:  905 Runner Ramaikan FEB Fun Run 2026

“Mahasiswa tidak perlu mengeluarkan uang, tetapi membantu program pemerintah daerah dengan mobilisasi berkemajuan, menggunakan ilmu yang dimiliki. Artinya, ketika satu masalah daerah dapat diselesaikan, itu sudah merupakan kontribusi besar,” ujarnya.

Salah satu program yang dapat dilakukan mahasiswa, kata Mujiono, adalah terkait persoalan batas desa.

Ia mendorong mahasiswa untuk berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), pemerintah kecamatan, serta pemerintah desa untuk memfasilitasi penyelesaian batas wilayah desa yang masih bermasalah.

“Bagaimana caranya? Panggil dan undang pihak terkait, libatkan masyarakat desa, serta desa tetangga. Semua hanya butuh koordinasi, karena anggaran terkait batas desa dan kecamatan sudah ada di desa dan kecamatan. Tidak perlu pakai uang, cukup mobilisasi ilmu dan tenaga,” jelasnya.

Selain itu, Mujiono juga menyoroti persoalan kesehatan, khususnya tingginya angka penderita tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Banggai.

BACA JUGA:  Ini Daftar Para Juara di FEB Fun Run 2026, Atep Jadi Tercepat Catatkan Waktu 16 Menit

Ia menyebutkan bahwa Banggai merupakan salah satu daerah dengan jumlah penderita TBC tertinggi, tidak hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga secara nasional.

Ia menjelaskan, salah satu faktor penyebab penularan TBC adalah kebiasaan makan bersama dalam satu wadah, terutama di kalangan perempuan yang saling berbagi sendok karena rasa kesetiakawanan, sehingga memudahkan penyebaran penyakit.

“Ini yang harus menjadi program kerja mahasiswa. Gandeng puskesmas dan pustu untuk mendata penderita TBC. Tidak perlu keluar uang, tetapi data yang benar sangat penting. Pengabdian kita bisa digunakan sebagai database untuk intervensi pemerintah dalam penanganan TBC,” tegasnya.

Mujiono juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa dari berbagai program studi diminta saling melengkapi, misalnya mahasiswa teknik membantu pengukuran dan pemetaan batas desa, sementara mahasiswa dari bidang sosial, dan ekonomi membantu dalam edukasi masyarakat dan pengumpulan data.

BACA JUGA:  Polisi Bekuk Lima Terduga Pengedar Ribuan Pil THD di Lamala, 2 Diantaranya Perempuan

“Kita tidak butuh orang yang hanya pintar, tetapi pintar-pintar, karena orang pintar belum tentu cerdas. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi,” katanya.

Ia juga menyinggung persoalan inflasi di Kabupaten Banggai yang masih tergolong tinggi, terutama terkait ketersediaan barang kebutuhan pokok.

Jika memungkinkan, mahasiswa KKN-MB diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam upaya penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui pembekalan ini, Mujiono berharap mahasiswa Unismuh Luwuk dapat benar-benar hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi atas permasalahan yang ada, serta menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang berdampak dan berkelanjutan. (*)