Scroll untuk baca artikel
BeritaNews

Ekonomi Politik dan Sumber Daya Alam: Suara Akademisi Paniai atas Kebijakan Pemerintah

363
×

Ekonomi Politik dan Sumber Daya Alam: Suara Akademisi Paniai atas Kebijakan Pemerintah

Sebarkan artikel ini

Paniai-Papua Tengah, Senin, 12 Januari 2026 – Bertempat di Sekretariat Kantor Desa Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, sebuah pernyataan penting disampaikan oleh para akademisi terkait kebijakan pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Papua. Opini ini ditulis oleh Menase N. Degei, mahasiswa Fakultas Akuntansi Program Studi Manajemen dan Bisnis di Universitas Victory Sorong.

Pendekatan ekonomi politik melihat izin hutan dan tambang sebagai alat akumulasi kapital yang terhubung dengan kepentingan negara, elite politik, dan korporasi. Dalam banyak kasus, negara tidak menghentikan ekstraksi SDA, tetapi hanya mengelolanya melalui birokrasi, memungkinkan eksploitasi tetap berlangsung secara legal. Menurut Degei, ini sangat merugikan masyarakat adat dan lingkungan, sehingga ia mendesak pemerintah untuk segera menindaklanjuti dan membatalkan program-program yang merugikan rakyat.

Sikap dan Pernyataan Suara Akademisi Paniai:

BACA JUGA:  Alumni Smada Luwuk 2012 Sukses Gelar Futsal Ramadhan Cup Jilid II

Pendorongan Militer di Beberapa Distrik

Penyusupan militer ke dalam ranah sipil, dengan menyamar sebagai guru, pedagang, bahkan PNS, harus segera dihentikan karena menambah ketegangan di wilayah tersebut.

BACA JUGA:  Diduga Jadi Pengedar Sabu, Emak-emak Asal Pagimana Ini Dibekuk Polisi

Daerah Otonomi Baru (DOB)

Pemekaran daerah yang dimaksudkan untuk pembangunan justru telah menelantarkan masyarakat asli Papua, dengan alasan eselonisasi atau tidak memenuhi syarat administratif.

PSN Tambang Ilegal atau Legal

Pembukaan tambang, baik yang ilegal maupun legal, berisiko tinggi terhadap pencemaran lingkungan, yang pada gilirannya dapat merusak SDA Papua yang tak ternilai harganya.

Suara Akademisi

Suara akademisi menyoroti kebijakan pemerintah terkait pengelolaan sumber daya alam dan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya di Papua. Pendorongan militer dalam ranah sipil, pemekaran daerah yang tidak adil bagi masyarakat asli, serta dampak ekstraksi tambang yang merusak lingkungan dan SDA harus menjadi perhatian utama pemerintah.

BACA JUGA:  Akhir Ramadhan, Alumni Smandul 96 Berbagi ke Panti Asuhan Maimunah Abas Nursin

Menanggapi semua permasalahan ini, Degei menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur hukum dan mekanisme demokratis yang sah, agar aspirasi masyarakat bisa didengar dan solusi yang dihasilkan bisa berkelanjutan serta adil bagi semua pihak. (*)

Jeri P. Degei