BANGGAI KECE- Paniai, Papua Tengah – Kepala Desa Togowa, Melkias Gobai, melaporkan pelaksanaan pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa serta pembelian dua ekor babi untuk kegiatan bakar batu Natal Jemaat Efata Togowa.
Laporan tersebut disampaikan Melkias Gobai melalui pesan WhatsApp kepada reporter Banggaikece.co.id, Rabu (7/1/2026).
Saat itu, Melkias berada di atas mobil sambil menikmati hiburan bersama kakaknya, Tua Ayub Gobai, mantan Kepala Sekolah SD YPPGI Kebo I Ikiyaida Giyaimani–Takugi, di Nabire pada akhir pekan Tahun Baru di Ibu Kota Provinsi Papua Tengah.
Melkias Gobai menjelaskan, pembagian BLT Dana Desa di Kampung Togowa merupakan program pemerintah desa untuk menyalurkan bantuan tunai kepada masyarakat.
Besaran bantuan biasanya Rp300.000 per bulan bagi setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dengan sumber dana berasal dari Dana Desa dan alokasi maksimal 15 persen dari total Dana Desa.
“Dana tersebut disalurkan kepada warga yang paling membutuhkan atau masuk kategori kemiskinan ekstrem, dilaksanakan secara transparan, dicatat dalam APBDes, serta sesuai dengan perhitungan jenis desa tahunan,” jelas Melkias.
Selain itu, pemerintah desa juga membeli dua ekor babi untuk keperluan kegiatan bakar batu Natal di gereja. Melkias menyebutkan, harga babi tersebut cukup mahal dan terjangkau, berkisar antara Rp25 juta hingga Rp30 juta per ekor. Pembelian dilakukan di Pasar Enarotali pada 23 Desember 2025 bersama masyarakat Kampung Togowa, Distrik Kebo, Kabupaten Paniai.
Melkias Gobai juga menyampaikan apresiasi kepada Pendamping Lokal Desa (PLD), pendamping distrik, Tenaga Ahli (TA) tingkat kabupaten, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Paniai atas dukungan laporan tahunan dan progres data desa.
Ia juga memberikan penghargaan dan rasa hormat kepada Bupati Kabupaten Paniai, Yampit Nawipa, A.Md.Tek, yang telah memberikan tugas dan tanggung jawab kepadanya sebagai Kepala Desa Togowa, Distrik Kebo.
“Selama masa jabatan saya sebagai kepala desa, saya telah membuktikan pembangunan desa di dusun sebagai simbol utama pra-kerja pembangunan desa, sehingga masyarakat tidak memiliki keberatan maupun permasalahan,” tutup Melkias Gobai. (*)
Penulis: Jeri P. Degei





