BANGGAI KECE-– Gelaran akbar syahadat massal terhadap 200 warga Suku Tau Taa Wana berlangsung khidmat di puncak Gunung Tua, Morowali Utara, Jumat (26/12/2025). Prosesi pensyahadatan ini berjalan lancar dan penuh haru, ditandai lantunan dua kalimat syahadat yang menggema di kawasan pegunungan tersebut.
Sebanyak 200 orang mualaf dengan penuh kesadaran mengikrarkan diri memeluk agama Islam. Proses ikrar dipimpin oleh Ustadz Sigit, Ketua Dewan Dakwah Morowali Utara, dan disaksikan langsung oleh sejumlah tokoh serta dai nasional dan daerah.
Turut hadir Tokoh Mualaf Koh Dondy Tan, Ustadz Mohammad Firdaus selaku Ketua Bidang Penempatan dan Pembinaan Dai Dewan Dakwah Pusat, Ustadz Muhammad Idris Yusuf selaku Direktur LAZNAS Dewan Dakwah Pusat, Ustadz Robiansyah selaku Direktur Badan Wakaf Dewan Dakwah Pusat, serta perwakilan Dewan Dakwah Provinsi Lampung, Bali, Solo Raya, dan mitra dakwah lainnya.
“Inilah proses yang telah lama dinantikan. Saudara-saudara kita dari Suku Tau Taa Wana berikrar syahadat dengan penuh kesadaran. Dakwah yang dilakukan dengan mengedepankan akhlaqul karimah membuat Islam masuk ke dalam hati mereka dengan kelembutan,” ujar Ummul Imamah dari Dewan Dakwah Solo Raya, seperti dilansir dari postingan akun Facebook Ustad Sigit.
Ustadz Sigit yang telah 22 tahun berdakwah di pedalaman Morowali Utara mengisahkan awal mula perhatiannya terhadap Suku Tau Taa Wana. Ia pertama kali bertemu salah seorang kepala suku pada April 2004 di sebuah pasar tradisional, tempat warga suku turun dari pegunungan untuk melakukan barter kebutuhan hidup.
“Mereka membawa hasil hutan dan kebun untuk ditukar dengan garam, minyak, ikan asin, dan kebutuhan lainnya,” jelas Ustadz Sigit.
Dalam pertemuan tersebut, seorang tetua bernama Jengki menyampaikan harapannya untuk mendapatkan perhatian dan pendampingan. Perkataan itulah yang kemudian menyentuh hati Ustadz Sigit dan menjadi titik awal dakwah berkelanjutan kepada Suku Tau Taa Wana.
Sejak saat itu, Dewan Dakwah bersama Ustadz Sigit fokus mendampingi dan mengajak warga Suku Tau Taa Wana untuk hidup menetap. Sejumlah lokasi pemukiman telah berhasil dibangun, dan Gunung Tua menjadi bagian dari rangkaian dakwah jangka panjang yang berkesinambungan.
Prosesi syahadat massal tersebut bertepatan dengan hari Jumat, Sayyidul Ayyam. Usai ikrar, para mualaf laki-laki dari Suku Tau Taa Wana melaksanakan shalat Jumat pertama mereka.
“Masya Allah, di puncak Gunung Tua mereka mengikrarkan syahadat dan melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya,” ungkap Ustadz Kurniawan, dai yang pernah bertugas di Morowali Utara.
Selain prosesi pensyahadatan, Tim Ekspedisi Dakwah Morowali Utara juga menyalurkan perlengkapan ibadah dan kebutuhan dasar berupa baju koko, sarung, peci, jilbab, mukena, serta membangun pipanisasi air untuk keperluan bersuci, pemondokan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Tim dakwah secara langsung membantu mengenakan pakaian muslim kepada para mualaf. “Sini saya bantu pakai jilbabnya, maroro,” ujar Ustadzah Ummul Imamah, yang berarti “cantik” dalam bahasa Wana.
Pasca pensyahadatan, Dewan Dakwah menyiapkan program pendampingan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai mitra dakwah. Dai-dai yang telah dipersiapkan akan ditugaskan secara khusus untuk membina masyarakat mualaf di Gunung Tua.
“Insya Allah pembinaan dan pelatihan keislaman akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan,” ungkap Ustadz Muhammad Firdaus.
Selain pembinaan keagamaan, Dewan Dakwah juga berencana membangun masjid, sekolah, serta pemondokan warga, mengingat Suku Tau Taa Wana selama ini hidup secara nomaden.
“Insya Allah kami akan membangun masjid dan sekolah di Gunung Tua sebagai penunjang dakwah dan pendidikan,” ujar Muhammad Idris Yusuf.
Sebelumnya, Dewan Dakwah juga telah sukses menjalankan program Kampung Zakat Bersinar di berbagai daerah, di antaranya Dusun Uwemalingku Desa Kolo Atas Morowali Utara, Pulau Semau, Kampung Oselan Nusa Tenggara Timur, dan wilayah lainnya.
Masyarakat diajak untuk mendoakan serta mendukung pembinaan pasca syahadat massal ini agar para mualaf dapat mengenal dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik. (*)





