BANGGAI KECE – Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banggai, Hj. Rampia Laamiri, M.MKes, kembali menyapa sahabat Insania melalui program Radio Talk, Selasa, 30 Desember 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Rampia Laamiri mengangkat tema “Kesehatan Reproduksi Remaja dan Hubungannya dengan Penularan HIV-AIDS”, sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman generasi muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.
Remaja merupakan aset strategis dalam pembangunan bangsa karena berada pada fase transisi menuju usia dewasa yang produktif. Namun, masa remaja juga menjadi periode yang sangat rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi. Perubahan fisik, hormonal, psikologis, dan sosial yang terjadi dengan cepat sering kali tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman yang memadai, sehingga mendorong remaja pada perilaku berisiko.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya risiko penularan HIV dan AIDS. Hingga saat ini, HIV-AIDS masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang serius, termasuk di kalangan remaja. Kurangnya informasi yang benar, pengaruh lingkungan pergaulan, serta mudahnya akses terhadap konten negatif menjadi faktor yang memperbesar kerentanan remaja terhadap perilaku seksual berisiko dan penyalahgunaan narkoba suntik.
Rampia Laamiri menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi remaja merupakan kondisi sehat secara fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Kesehatan reproduksi tidak hanya berarti bebas dari penyakit, tetapi juga mencakup kemampuan remaja untuk memahami, menjaga, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksinya sesuai nilai moral, agama, dan norma sosial.
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan organ reproduksi, munculnya dorongan seksual, serta pencarian jati diri. Tanpa pemahaman yang benar, perubahan tersebut dapat menimbulkan kebingungan dan mendorong remaja untuk mencoba perilaku berisiko, seperti hubungan seksual pranikah dan perilaku tidak aman lainnya.
Remaja juga memiliki karakteristik khusus yang membuat mereka rentan terhadap penularan HIV-AIDS, antara lain rasa ingin tahu yang tinggi, kecenderungan mencoba hal baru, pengaruh teman sebaya, serta kemampuan pengendalian diri yang belum matang. Selain itu, masih banyak remaja yang memiliki pemahaman keliru tentang HIV-AIDS, termasuk anggapan bahwa HIV hanya menyerang kelompok tertentu.
Kurangnya komunikasi terbuka antara remaja dengan orang tua, guru, dan tenaga kesehatan turut memperbesar risiko. Banyak remaja memilih mencari informasi dari media sosial atau internet tanpa filter, yang sering kali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan tahap lanjutan dari infeksi HIV. Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Pada kalangan remaja, penularan HIV paling banyak terjadi melalui hubungan seksual berisiko dan penyalahgunaan narkoba suntik. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan antara perilaku kesehatan reproduksi remaja dengan risiko penularan HIV-AIDS.
Remaja yang tidak memiliki pengetahuan dan sikap yang benar tentang kesehatan reproduksi cenderung lebih mudah terjerumus pada perilaku berisiko, seperti berganti-ganti pasangan, melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan, serta terpapar infeksi menular seksual (IMS). IMS seperti sifilis dan gonore dapat meningkatkan risiko penularan HIV karena adanya luka atau peradangan pada organ reproduksi.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan reproduksi dengan menunda aktivitas seksual, menjaga pergaulan yang sehat, serta menghindari narkoba menjadi langkah penting dalam mencegah penularan HIV-AIDS di kalangan remaja.
Rampia Laamiri menegaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif dan berkelanjutan merupakan pendekatan preventif yang sangat efektif. Edukasi ini meliputi pemahaman perubahan fisik dan psikologis remaja, risiko perilaku berisiko, serta cara pencegahan HIV-AIDS.
Pesan kunci yang perlu ditanamkan kepada remaja antara lain menunda hubungan seksual sampai menikah, setia pada satu pasangan dalam pernikahan, menolak ajakan perilaku berisiko, menghindari narkoba, serta membangun pergaulan yang sehat dan positif.
Selain itu, peran sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Sekolah berfungsi sebagai sarana edukasi, keluarga sebagai tempat pembentukan nilai dan komunikasi, sementara KPA dan OPD terkait berperan dalam menyediakan program, kebijakan, serta layanan kesehatan yang mendukung remaja.
“Pencegahan HIV-AIDS pada remaja adalah tanggung jawab bersama. Sinergi lintas sektor sangat penting agar pesan pencegahan dapat diterima secara luas dan berkelanjutan,” tutupnya.
Dengan penguatan edukasi kesehatan reproduksi, diharapkan dapat tercipta generasi muda yang sehat, cerdas, dan bertanggung jawab, sekaligus menekan angka penularan HIV-AIDS di Kabupaten Banggai. (*)





