Oleh: 𝑨𝒏𝒂𝒏𝒈 𝑺. 𝑶𝒕𝒐𝒍𝒖𝒘𝒂
Tahun lalu, saya ikut Last Sunday Run (LSR) yang digagas Pak Rudy Salahuddin (Pj. Gubernur) di Gorontalo. Lari itu lebih menekankan aspek fun, rekreasi, dan kebersamaan di hari Minggu penutup tahun 2024. Meski demikian, 𝗲𝘃𝗲𝗻𝘁 ini tetap digarap cukup serius. Disiapkan kaos seragam, dan diikuti banyak pelari lokalan.
Tahun ini, karena berakhir tahun di Luwuk, saya terancam absen dari LSR. Beruntung, saya mendapati bahwa Korpri dan Dinas Pariwisata Banggai, menyelenggarakan Korpri Banggai Run, di Minggu, 28 Desember 2025.
Korpri Banggai Run, dalam bayangan saya, akan sama dengan LSR. Namanya 𝗿𝘂𝗻, momennya akhir pekan, di akhir tahun, dalam suasana kebersamaan. Karena itu, saya rencana tidak akan membawa hp sebagai pencatat waktu pribadi.
Namun semua praduga manis itu mulai runtuh perlahan ketika kami menyadari satu fakta kecil yang dampaknya luar biasa. Titik start dan finishnya berada di Astaka (Bukit Halimun, dengan elevasi 134 meter). Kecil di angka, besar di rasa.
Rute ini bukan rute biasa. Ia menuntut bukan hanya stamina, tetapi juga kebijaksanaan. Kapan pelari harus menahan ego, kapan harus berdamai dengan napasnya sendiri.
Di satu kilometer pertama, pelari sudah disuguhi turunan tajam mulai dari Tugu Maleo sampai bibir pantai Kilo 5. Turunan dan tikungan tajam ini butuh konsentrasi penuh. Karena itu, di sisi jalan depan hotel Santika, panitia memberi peringatan tertulis: “𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗶𝗻𝗷𝗮𝗸 𝗿𝗲𝗺 𝗸𝗮𝘄𝗮𝗻”.
Lalu, di dua kilometer terakhir, peserta bukannya dirangsang memacu kecepatan, tapi benar-benar diajak meresapi makna kehidupan. Strategi harus diubah, bukan bagaimana bisa naik podium, tapi bagaimana mengatur napas agar tetap hidup sampai garis finish.
Sebagai pelari yang belum pernah ikut rute seperti ini, saya diajak istri mengetes rute dulu, sehari sebelum lomba. Sayang tak ada kesempatan, sehingga saya hanya berlatih tanjakan dari pertokoan ke SMP 1 (Orang Luwuk hapal rute ini). Saya juga dibujuk agar mengambil rute 6 km saja. Tapi saya menolak, alasannya kalau di Gorontalo Half Marathon saya bisa finish di 10 KM, masa di Luwuk harus “𝘁𝘂𝗿𝘂𝗻 𝗸𝗲𝗹𝗮𝘀?”
Tapi, rute ini ternyata betul-betul memberikan pelajaran berharga. Setelah berlari sepanjang 8 km, kami memasuki rute menanjak. Seorang pelari putri yang kenal saya mengajak berlari bersama sejak dari Taman Makam Pahlawan. Kami masih bersemangat ketika belok kiri di kantor Lurah Tanjung Tuwis.
Namun, begitu masuk tanjakan pertama, kami mulai kehabisan tenaga. Dan betul saja, tanpa kesepakatan, kami berhenti lari sampai di sini saja. Selebihnya, kami berjalan sambil mengatur nafas. Kami tidak bisa bersama lagi. Kami harus berjalan sendiri-sendiri sesuai sisa tenaga yang kami miliki.
Panitia bukan tidak menyadari ini. Mereka sudah membayangkan apa yang akan dialami peserta. Alih-alih menaruh simpati, mereka malah menantang peserta dengan tulisan penyemangat: “𝗞𝗮𝗺𝘂 𝗸𝗶𝗿𝗮 𝘀𝗼 𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗷𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿?” Kameramen Fotoyu juga banyak disiapkan disini. Mereka sengaja dipasang untuk merekam ekspresi wajah ‘asli’ para peserta.
Tak ayal, usai lari, rute ini menimbulkan reaksi beragam di media sosial. Seorang Selegram sambil ngos-ngosan terus mengoceh, “𝗜𝗻𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗳𝘂𝗻 𝗿𝘂𝗻, 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗼 𝘀𝗶𝗸𝘀𝗮 𝗿𝘂𝗻.” Tentu saja sambil bercanda, meski nadanya terdengar jujur. Ada pula yang menyebut ini rute militer (mungkin karena hanya disiplin dan ketabahan yang bisa menyelamatkan). Dan saya sendiri menyebut: “𝗜𝗻𝗶 𝗹𝗮𝗿𝗶 𝟭𝟬𝗞, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗮𝘀𝗮 𝟭𝟱𝗞.” Sebuah pernyataan ilmiah berbasis waktu tempuh yang saya rasakan.
Namun justru di situlah keistimewaannya. Korpri Banggai Run bukan sekadar tentang lomba kecepatan atau catatan waktu. Melainkan tentang cerita pegal yang tertinggal di otot, napas yang hampir putus, dan obrolan selepas lomba. Tentang bagaimana kita tertawa atas penderitaan kecil yang kita pilih sendiri. Tentang rasa bangga bisa menyelesaikan sesuatu yang tadinya kita pikir mustahil.
Pada akhirnya, ini mungkin bukan tentang 𝗳𝘂𝗻 𝗿𝘂𝗻 dalam definisi resmi. Tapi jelas, ini run yang 𝗳𝘂𝗻 untuk dikenang. Sebab tak semua lari memberi pelajaran.
Korpri Banggai Run mengajarkan bagaimana mengatur ego, napas, kesabaran, keikhlasan, atau bahkan penyesalan. Ia mengajarkan pula bahwa Minggu terakhir di tahun 2025 ini ternyata bisa terasa sangat panjang, terutama saat-saat di tanjakan. Kalau bisa, saya usul ini jadi agenda rutin tahunan.
Hehe.
Salut buat panitia. Sukses buat semua peserta.(*)





