BANGGAI KECE – Kerja keras, ketekunan, dan ketulusan hati akhirnya berbuah manis. Yolanda Debora Purba, S.Sos., lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, menorehkan prestasi membanggakan.
Ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik tingkat universitas dan fakultas pada Wisuda Untika Luwuk Angkatan XXXII.
Gadis cantik kelahiran 10 Mei 2003 ini sukses mengungguli enam lulusan terbaik dari fakultas lain. Prestasi tersebut diumumkan dalam prosesi wisuda yang digelar Selasa, 16 Desember 2025, di Hotel Estrella Luwuk.
Sebagai bentuk apresiasi, Yolanda menerima selempang cumlaude, piagam penghargaan, serta bonus uang tunai yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Banggai Furqanuddin Masulili, perwakilan LLDIKTI Wilayah XVI, dan Rektor Untika Luwuk, Taufik Bidullah.
Dalam ujian tugas akhirnya, Yolanda mengangkat skripsi berjudul “Kinerja Pegawai Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil dalam Meningkatkan Pelayanan Akta Kelahiran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banggai.”
Tema tersebut dipilih sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kualitas pelayanan publik, khususnya yang menyentuh langsung hak dasar masyarakat.
Sejak lahir hingga usia 22 tahun, Yolanda tumbuh dan besar di Luwuk. Ibunya berasal dari Totikum Selatan, sementara sang ayah berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Sekitar 15 tahun lalu, ayah Yolanda berpulang, meninggalkan ibunya sebagai orang tua tunggal yang membesarkan dua anak dalam keterbatasan.
Sang ibu berprofesi sebagai ASN, dan sejak saat itu menjadi tulang punggung keluarga.
Yolanda mengenang masa-masa sulit ketika memenuhi kebutuhan makan pun terasa berat, terlebih harus bertahan hidup dengan biaya kos di Luwuk. “Dalam keterbatasan itu, kami bertiga hanya bisa saling mengandalkan,” kenangnya.
Duka terberat adalah ketika sang kakak harus memilih merantau dan bekerja di luar daerah demi membantu meringankan beban keluarga. Namun dari situlah Yolanda belajar tentang arti pengorbanan dan tanggung jawab.
Meski bangga meraih IPK tertinggi se-Untika Luwuk, Yolanda memandang pencapaiannya bukan sekadar prestasi akademik, melainkan tanggung jawab moral.
“Pencapaian ini menjadi pengingat bagi saya untuk terus refleksi diri. Setelah lepas dari status mahasiswa, tentu ada harapan dan ekspektasi terhadap apa yang bisa saya kontribusikan,” ujarnya.
Harapan terbesarnya sederhana namun bermakna yaitu ingin membanggakan mama dan kakak tercintanya.
Saat ditanya kiat meraih IPK tinggi, Yolanda menegaskan pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap rencana dan kekhawatiran.
Selain itu, ia menanamkan rasa tanggung jawab besar terhadap keluarga. “Saya akan sangat bersalah jika tidak menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh atau tidak jujur kepada mama dan kakak saya,” katanya.
Tak hanya fokus akademik, Yolanda juga aktif berorganisasi. Menurutnya, dunia kampus bukan sekadar rutinitas kuliah dan pulang. Organisasi memberinya ruang bertumbuh, memperluas cara berpikir, dan memperkaya perspektif dalam memandang kehidupan.
Usai menyandang gelar sarjana, Yolanda memiliki rencana jangka panjang untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun saat ini, ia memilih untuk terjun langsung ke dunia kerja demi membangun pengalaman dan kematangan berpikir.
“Setelah memiliki pengalaman kerja yang cukup, saya berharap bisa melanjutkan pendidikan dengan perspektif yang lebih matang dan tujuan yang lebih jelas,” tutupnya.
Kisah Yolanda Debora Purba menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi, selama ada tekad, doa, dan cinta keluarga yang menguatkan. (*)





