Scroll untuk baca artikel
BeritaNewsPendidikan

Mahasiswa FKIP Untika Luwuk Gelar Penelitian Situs Sejarah di Banggai Laut

901
×

Mahasiswa FKIP Untika Luwuk Gelar Penelitian Situs Sejarah di Banggai Laut

Sebarkan artikel ini

Banggaikece.id – Sebanyak 46 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tompotika (Untika) Luwuk melaksanakan kunjungan penelitian ke sejumlah situs bersejarah di Kabupaten Banggai Laut.

Kegiatan ini merupakan bagian integral dari mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan tujuan memberikan pembelajaran langsung mengenai peradaban dan budaya khas Banggai Laut.

Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa mendatangi beberapa lokasi penting, di antaranya Keraton Banggai, Makam Maulana Prins Mandapar, Desa Kendek, dan Desa Pasir Putih. Fokus penelitian tahun ini diarahkan pada pelestarian cerita rakyat serta penggunaan bahasa Banggai sebagai upaya memperkuat identitas budaya lokal.

BACA JUGA:  Alumni Smada Luwuk 2012 Sukses Gelar Futsal Ramadhan Cup Jilid II

Untuk menunjang penelitian, para mahasiswa juga melakukan dialog dengan narasumber di Keraton Banggai, Desa Kendek, dan SMAN 1 Banggai. Melalui interaksi tersebut, mereka mengumpulkan data terkait cerita rakyat, sejarah, serta praktik penggunaan bahasa daerah Banggai.

BACA JUGA:  Akhir Ramadhan, Alumni Smandul 96 Berbagi ke Panti Asuhan Maimunah Abas Nursin

Dosen pendamping FKIP, Yudiansyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya dokumentasi kebudayaan sekaligus memberi kontribusi nyata dalam bidang pendidikan.

“Melalui kegiatan ini, kami berupaya menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang merupakan identitas masyarakat Banggai Laut, serta mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran,” ujarnya.

BACA JUGA:  Diduga Jadi Pengedar Sabu, Emak-emak Asal Pagimana Ini Dibekuk Polisi

Universitas Tompotika Luwuk berkomitmen untuk terus mendorong mahasiswa melakukan penelitian lapangan demi memperluas wawasan budaya dan mempererat ikatan antar generasi.

Dengan semangat pelestarian budaya, kegiatan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga eksistensi bahasa dan tradisi Banggai Laut di tengah derasnya arus modernisasi. (*)

Sumber: Disparbud Balut