Scroll untuk baca artikel
Example 300250 Example 300250
Example 300250
NewsOpini

Peran Pancasila dalam Kekerasan Seksual dalam Lingkup Pendidikan

60
×

Peran Pancasila dalam Kekerasan Seksual dalam Lingkup Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Penulis : Siti Afifa Maharani (Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Farmasi, Universitas Muhammadiyah Malang)

Pancasila sebagai landasan nilai dan dasar pengembangan ilmu merujuk kepada sila ke-2 Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”. Di jelaskan pada sila ini bahwa setiap manusia memiliki hak dan martabat yang sama di dalam hukum dan juga pentingnya perlakuan yang adil bagi semua individu tanpa memandang jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pencegahan kekerasan seksual meliputi pendidikan di sekolah maupun di universitas serta kampanye penyadaran di media sosial. Pendidikan seks yang memuat nilai-nilai Pancasila dapat membantu untuk mencegah kekerasan seksual.

Example 300250

Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi (universitas) merupakan isu yang sangat sensitif dan kompleks yang memerlukan perhatian dan tindakan sesegera mungkin. Banyak kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi yang sering kali tidak dilaporkan atau tidak ditangani dengan lebih serius, yang dapat mengakibatkan para korban merasakan bahkan mempunyai trauma yang berkepanjangan dan bisa mempengaruhi aktivitas perkuliahan korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual, juga serta dapat dilakukan oleh individu atau kelompok. Lingkungan peguruan tinggi (universitas) yang seharusnya menjadi lingkungan paling aman dan nyaman bagi mahasiswa atau mahasiswinya terutama untuk belajar dan mengejar impiannya justru menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual. Fenomena ini jelas sangat merugikan banyak pihak selain korban, sebab reputasi dan integritas instansi pendidikan itu sendiri akan dipandang buruk di mata publik.

Menurut survei yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi pada tahun 2020, menunjukkan bahwa sebanyak 77% dosen menyatakan bahwa kekerasan seksual terjadi di perguruan tinggi (universitas) dan 63% dari para korban tidak melaporkan kasusnya kepada pihak kampus ataupun pihak yang berwajib. Selain itu, survei yang dilakukan Kemendikbud per Juli 2023, terjadi 65 kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi (universitas). Sebagai mahasiswa atau mahasiswi kita harus mengetahui dampak pencegahan dari kekerasan seksual. Hal ini bertujuan agar kita lebih bisa mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal buruk di lingkungan tempat kita menuntut ilmu. Beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiswa atau mahasiswi untuk mencegah dan mengurangi tindak kekerasan seksual di lingkup perguruan tinggi (universitas) yaitu dengan cara :

BACA JUGA:  Akademisi: Sambut Pesta Demokrasi dengan Gembira, Bukan Saling Menghujat 

Menjaga pergaulan dan lebih banyak menghabiskan waktu serta melakukan tindakan- tindakan positif  dan bermanfaat.

Mengikuti sosialisasi yang berfokus pada cara penanggulangan kekerasan seksual di perguruan tinggi (universitas).

Menggali informasi tentang satuan tugas pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual perguruan tinggi (universitas).

Selain pencegahan dini dari mahasiswa itu sendiri, perguruan tinggi dan civitas akademika di dalamnya juga harus terlibat dalam pencegahan kasus kekerasan seksual. Sebab, kampus memiliki peran yang sangat penting dalam penyelesaian masalah dan langkah apa saja yang akan diambil untuk melindungi korban dan memberikan sanksi kepada pelaku jika terjadi kekerasan seksual. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan perguruan tinggi untuk mencegah dan mengurangi tindak kekerasan seksual :

Mengembangkan kebijakan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pencegahan kekerasan seksual meliputi pengembangan kebijakan yang mendukung pencegahan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tingi.

Menyediakan mekanisme pengaduan atau pelaporan yang aman bagi korban yang mengalami atau mengetahui kekerasan seksual, baik di dalam maupun di luar kampus serta memberikan layanan atau saluran pelaporan yang tersosialisasikan kepada seluruh warga kampus.

BACA JUGA:  KKN Angkatan 36, LP3M Unismuh Luwuk Usung Tema Khusus Program Kampung Iklim 

Memberikan layanan atau saluran pelaporan kekerasan seksual yang tersosialisasikan kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan staf di kampus, serta memberikan perlindungan hukum dan mendukung korban untuk bisa memberanikan diri apabila kasus kekerasan seksual terjadi lagi.

Memberikan tanda peringatan “zona bebas kekerasan seksual” di kampus untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga kampus termasuk civitas akademika, dosen dan mahasiswa atau mahasiswi di kampus.

Melakukan sosialisasi, pelatihan dan evaluasi untuk mengurangi kekerasan berbasis gender dan meningkatkan kesadaran seluruh warga kampus tentang kekerasan seksual.

Memberikan perlindungan hukum yang baik dan memadai bagi korban kekerasan seksual, serta hukuman yang tegas bagi pelaku kejahatan. Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintahan, masyarakat sipil, dan Lembaga Pendidikan, untuk mengatasi kekerasan seksual secara bersama-sama.

Memiliki sifat solidaritas yang tinggi dan saling membantu dalam menangani kekerasan seksual . Hal ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk menanggulangi kasus ini.

Memberikan Pendidikan seks yang memuat nilai-nilai Pancasila dapat membantu mencegah kekerasan seksual. Pendidikan ini harus dimulai dari dini dan melibatkan Pendidikan

kesehatann reproduksi untuk anak-anak agar mereka dapat memahami dan menolak kejadian yang berkaitan dengan kekerasan seksual.

Pengawasan dan penanganan korban kekerasan seksual harus dilakukan dengan serius. Penanganan korban diatur dalam Pasal 10-19 Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 yang mengatur tegas sanksi bagi pelaku pelecehan seksual. Selain itu, pada Pasal 292 KUHP mengatur tentang pelecehan seksual dengan ancaman kekerasan. Pasal ini menyatakan bahwa seseorang yang dengan ancaman kekerasan memaksa orang lain melakukan perbuatan cabul, akan diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun (9 tahun).

BACA JUGA:  Pembekalan KKN Wajib Diikuti, Jika Tidak Mahasiswa Bisa Batal Diterjunkan ke Lokasi

Dari pemaparan di atas menyatakan bahwa kekerasan seksual telah menjadi isu yang semakin meningkat dan perlu diperhatikan di Lembaga Pendidikan. Kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya perspektif gender, korban takut untuk melapor, dan dekadensi moral. Dalam perspektif Pancasila kekerasan seksual merupakan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu mahasiswa atau mahasiswi perlu mengantisipasi adanya kasus kekerasan seksual tersebut yang dapat dimulai dari diri sendiri seperti menjaga pergaulan, selalu bersikap waspada, belajar dari kasus yang ada, dan membenahi diri dengan mengembankan Pancasila sebagai system etika dalam pergaulan masyarakat.

Jika kita mengikuti Tindakan pencegahan yang dijelaskan diatas, kemungkinan kita mengalami pelecehan seksual akan sangat kecil. Sebagai mahasiswa, salah satu peran penting kita adalah menjadi agen perubahan dan menjadi garda terdepan dalam mengadvokasi tentang pelecehan seksual Selain itu, kita sebagai pelajar juga dapat mendukung pemulihan dari trauma atau gangguan mental yang dialami oleh korban. Karena lingkungan sekitar juga memilki pengaruh yang sangat besar pada korban kekerasan seksual. Kasus kekerasan seksual yang terus meningkat di Lembaga Pendidikan seharusnya bisa mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat. 

Pemerintah harus menyediakan ruang aman di Lembaga Pendidikan bagi para korban dan menciptakan hukum yang bisa mempertegas tindak kejahatan yang dilakukan oelh perilaku kekerasan seksual. Masyarakat juga diharapkan bisa bersikap bijak dalam menghadapi kasus kekerasan seksual. Kesadaran akan hal ini sangat penting untuk mencegah dan mengurangi kekerasan seksual. Mari bersama-sama kita membasmi dan mencegah kekerasan seksual terutama di lingkup institusi! (*)

Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250