Scroll untuk baca artikel
Example 300250 Example 300250
Example 300250
NasionalNewsOpini

MENJAGA KEDAMAIAN DAN KESATUAN BANGSA DARI PERILAKU BULLYING

110
×

MENJAGA KEDAMAIAN DAN KESATUAN BANGSA DARI PERILAKU BULLYING

Sebarkan artikel ini

OLEH: FATHI AIQON AL HIJRI 

Akhir-akhir ini beredar sebuah berita tentang seorang siswa bernama Ahmad mengalami berbagai bentuk bullying yang dilakukan oleh sekelompok siswa yang lebih tua darinya. Bullying tersebut terjadi secara fisik, verbal, dan bahkan melalui media sosial. Ahmad sering kali menjadi bahan ejekan dan tidak jarang mengalami perlakuan yang merendahkan martabatnya di depan teman-temannya.

Example 300250

Ahmad, yang awalnya adalah seorang siswa yang ceria dan berprestasi, mulai menunjukkan tanda-tanda stres dan depresi akibat perlakuan yang ia terima. Ia mulai sering bolos sekolah, menunjukkan penurunan dalam hasil akademiknya, dan bahkan mengalami gangguan tidur dan hilangnya minat pada kegiatan yang biasa ia gemari.

Pancasila dan dasar negara Indonesia, merupakan landasan moral yang fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai di dalamnya yang sangat luhur seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan sosial menjadi sebuah penunjuk arah yang menuntun bangsa Indonesia menuju masa depam yang cerah lagi bermartabat. Dan salah satu perwujudan nyata penerapan nilai-nilai tersebut adalah dengan menciptakan lingkungan yang harmonis, aman, dan tanpa ada perundungan.

Perundungan atau yang biasa disebut bullying adalah tindakan agresif yang sengaja dilakukan individu atau sebuah kelompok untuk menyakiti seseorang secara fisik, verbal, maupun secara emosional.  Tindakan ini dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi korban, mulai dari kekerasan fisik maupun mental. Oleh karena itu penting bagi masyarakat agar menciptakan suasana dan lingkungan yang aman juga inklusif bagi semua orang.

Nilai-nilai pancasila dapat menjadi senjata ampuh untuk menindaklanjuti perilaku bullying ini. Sila pertama yakni Ketuhanan yang maha Esa, mengajarkan masyarakat untuk menanamkan rasa hormat kepada tuhan dan sesama manusia, mendorong toleransi, juga saling menghargai perbedaan seperti yang tertanam pada bhineka tunggal ika.

BACA JUGA:  Akademisi: Sambut Pesta Demokrasi dengan Gembira, Bukan Saling Menghujat 

Sila kedua yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab, mengajarkan masyarakat supaya menekankan pentingnya persamaan hak dan martabat semua orang tanpa adanya deskriminasi suku, agama, ras, ataupun status sosial. 

Sila ketiga yakni Persatuan Indonesia, mengajarkan masyarakat untuk untuk mendorong semangat persatuan dan kesatuan bangsa, membangun rasa kepedulian dan tanggung jawab bersama menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman dari perundungan. 

Sila keempat yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, mengajarkan masyarakat Indonesia agar mengakui hak setiap individu untuk hidup bebas dari tindakan perundungan, mendorong  partisipasi aktif dalam mencegah dan menanganinya.

Sila kelima yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, mengajarkan pada bangsa Indonesia untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera, di mana setiap orang memliki kesempatan yang sama untuk berkembang serta terhindar dari rasa takut dan intimidasi.

Dalam upaya mengatasi tindakan perundungan ini, diperlukan penerapan nilai-nilai pancasila dari berbagai pihak termasuk pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berikut beberapa cara penerapannya:

Penerapan nilai-nilai pancasila dalam pemerintah adalah seperti melaksanakan edukasi tentang bahaya perundungan dan pentingnya menjaga sikap toleransi juga saling meghargai di sebuah komunitas, mengembangkan kebijakan anti-bullying yang komprehensif dan mudah diakses, juga dengan memastikan penegakan hukum yang berat bagi para pelaku perundungan agar mereka jera lantas tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Nilai-nilai pancasila juga harus diterapkan pada lingkungan sekolah seperti; murid dan siswa harus bisa menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif, bebas dari perundungan dan diskriminasi, menerapkan program anti-perundungan yang efektif seperti edukasi, pelatihan, dan monitoring, juga dengan cara membangun budaya saling menghormati dan menghargai antar siswa, guru juga staf sekolah.

BACA JUGA:  Mahasiswa KKN Harus Bisa Memotivasi Masyarakat, Gerakan Ekonomi di Desa 

Bagi para orang tua penerapan nilai-nilai tersebut juga tidak kalah penting dalam keluarga sudah keharusan mereka untuk menanamkan nilai-nilai pancasila dan karakter positif  kepada anak sejak dini, membangun komunikasi yang suportif dan terbuka dengan anak sehingga mereka merasa nyaman untuk menceritakan pengelamannya tentang perundungan. 

Orangtua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolahuntuk menangani dan mencegah perundungan tersebut.

Bukan hanya dalam pemerintah, sekolah, dan keluarga saja,  nilai-nilai pancasila tersebut juga harus ditanamkan dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti meningatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tindakan bullying dan cara melawannya, berani bertindak juga melaporkan ketika terjadi perundungan, dan tidak lupa menumbuhkan budaya saling toleransi dalam masyarakat. 

Selain penerapan nilai yang sudah saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak sekali contoh-contoh penerapan nilai pancasila dalam usaha menghadapi tindakan perundungan ini. Terutama dengan banyaknya variasi budaya masyarakat indonesia yang menjadikan cara menghadapi bullying juga beragam dan sesuai kebiasaan mereka masing-masing. Misalnya apabila terjadi suatu tindakan perundungan yang berada di daerah A maka akan ditangani dengan cara daerah A, begitu pun di daerah B akan ditangani dengan cara daerah B, tapi tentunya tetap dengan menanamkan nilai-nilai pancasila di dalamnya. 

Upaya untuk mencegah tindakan perundungan bukanlah hal yang sepele, akan tetapi butuh ilmu dan metode untuk melakukannya.  Penting diingat bahwa ada beberapa poin penting agar upaya pencegahan tindakan bullying terlaksana dengan efisien dan tanpa merugikan pihak manapun. Poin-poin tersebut yaitu: 

Upaya mengatasi perundungan sangat membutuhkan kerja sama dan komitmen dari semua pihak. Dengan kekompakan dari semua pihak, maka ada peluang besar berkat dukungan mereka, sehingga dapat mudah mengatasi perundungan.

Menerapkan nilai-nilai pancasila dengan konsisten dan berkelanjutan. Dengan mengajarkan kepada sesama nilai-nilai pancasila yang baik dan luhur maka kemungkinan besar akan menjadikan orang-orang sekitar lebih paham akan dampak dan konsekuensi dari bullying.

BACA JUGA:  SMAN 1 Luwuk Sosialisasi Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Pembelajaran 

Menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi semua orang. Siapa yang tidak senang jika lingkungan yang ada di sekitar mereka adalah lingkungan yang aman, tentram, dan inklusif. Maka dari itu sangat penting untuk saling bekerjasama dalam menciptakan lingkungan tersebut. 

Membantu dan mendukung korban tindakan perundungan. Korban bullying umumnya akan mengalami trauma dan kesedihan yang mendalam, oleh karena itu upaya yang ahrus dilakukan agar mental psikologis mereka tetap terjaga dan terkontrol adalah dengan membantu menenangkan pikiran dan mendukung sepenuh hati agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri karena trauma atau bahkan kehilangan akal sehat.  

Kesimpulan dari teks ini adalah bahwa menjaga kesatuan dan kedamaian bangsa dari perilaku bullying merupakan tanggung jawab yang harus diterapkan oleh semua masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, pemerintah dan individu. Pancasila sebagai landasan moral bangsa Indonesia telah menawarkan nilai-nilai yang dapat embantu semua masyarakat dalam menghadapi dan menangani perundungan, seperti saling menghormati, memastikan kesetaraan hak, menghargai perbedaan, membangun persatuan, mendorong keadilan sosial, dan masih banyak lagi. 

Penerapan nilai-nilai tersebut memerlukan komitmrn dan kerjasama dari semua pihak, serta menciotakan lingkungan yang aman, inklusif dan mendukung bagi semua orang,termasuk para korban perundungan tersebut. Oleh karena itu edukasi tentang bullying, kebijakan anti-perundungan, komunikasi secara terbuka, dan dukungan psikologis merupakan beberapa langkah yang dpat diambil dan diterapkan untuk mencegah dan menangani tindakan perundungan secara baik dan efektif. (*)

Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250